JAKARTA, 8 Oktober 2026
Kekayaan pangan lokal Indonesia kembali menjadi perhatian utama dalam Simposium Pangan Nasional 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis (8/10/2026). Forum yang bertepatan dengan dua dekade berjalannya program Indofood Riset Nugraha (IRN) dan menyambut Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober ini menjadi momentum resminya pembukaan IRN 2026-2027 bagi mahasiswa jenjang S1.
Mengusung tema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa”, simposium ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, peneliti, dan pelaku industri. Pertemuan lintas sektor ini membahas pengembangan pangan fungsional secara menyeluruh, mulai dari potensi bahan baku lokal, aspek kesehatan dan keamanan, hingga tantangan regulasi serta hilirisasi produk.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa keberlanjutan suatu negara sangat bergantung pada keberlanjutan industri pangannya. Selain gizi dan nutrisi, keterjangkauan harga menjadi isu krusial yang harus diselesaikan. Menurut Rachmat, riset pangan memerlukan ekosistem terpadu yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, petani, dan pelaku usaha agar hasil penelitian memiliki jalur nyata menuju sektor industri serta memberikan nilai tambah.
Mendorong Hasil Riset Menuju Skala Industri
Program IRN 2026-2027 menggandeng 83 peneliti mahasiswa S1 terpilih dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mengembangkan kearifan lokal melalui dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN. Salah satu peneliti terbaik yang berpartisipasi dalam ajang ini adalah Elen Bethania Pasaribu, salah satu mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. .
Meski potensi bahan baku lokal melimpah, proses menjembatani riset laboratorium dengan produksi massal menghadapi tantangan nyata. Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian RI, Dyan Garneta Paramita Sari, menyampaikan bahwa produk skala laboratorium wajib melewati tahap uji coba skala pertengahan sebelum siap dipasarkan. Selain penerimaan konsumen, pelaku usaha harus memperhitungkan kalkulasi biaya produksi, pemasaran, serta jalur distribusi. Oleh sebab itu, pendampingan dari skala kecil menuju industri besar sangat mutlak diperlukan.
Pentingnya Pengawasan Regulasi Sejak Awal Inovasi
Dari sudut pandang pengawasan, Perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ati Widya Perana, mengingatkan pentingnya pembuktian ilmiah atas klaim manfaat kesehatan. BPOM menekankan agar regulasi tidak baru dipikirkan saat produk telah selesai dikembangkan. Peneliti diimbau menetapkan kategori pangan, komposisi, target konsumen, serta pemenuhan standar mutu dan keamanan sejak tahap awal perancangan inovasi.
Sinergi yang erat antara kampus, pemerintah, dan pelaku industri menjadi kunci utama agar kekayaan potensi pangan lokal Indonesia dapat bertransformasi menjadi produk komersial yang aman, sesuai regulasi, dan layak secara ekonomi.